| dc.description.abstract | 1. Tujuan Penelitian Penelitian ini secara keseluruhan bertujuan ingin memahami latar belakang, proses dan konteks serta pelembagaan kekerasan, yang melibatkan kiai NU dalam kasus dukun santet. Secara lebih rinci lagi tujuan penelitian ini sebagai berikut: pertama, menjelaskan bagaimana kekerasan itu sering terjadi di masyarakat. Pemicu ini akan diuraikan berkenaan dengan situasi dan kondisi sosial budaya dan politik yang ada di masyarakat. Kedua, menjelaskan konteks yang berkaitan dengan wilayah, sasaran dan dimensi kekerasan. Persoalan wilayah kekerasan menyangkut peta kekerasan, sedang sasaran kekerasan menjelaskan seberapa besar korban yang ada. Masalah dimensi kekerasan lebih banyak menceritakan pola atau modus kekerasan tersebut. Ketiga, menemukan pijakan dukungan kekerasan itu bisa terbentuk. Dari pijakan dukungan ini akan melahirkan penjelasan tentang mereka yang menjadi operator atau yang memobilisasi kekerasan di lapangan. Keempat, menemukan implikasi dan kepentingankepentingan pada terimbasnya kiai NU pedesaan dalam kekerasan tersebut. Serta reaksi sebagian kiai dalam mensikapi munculnya kekerasan itu. 2. Cara Penelitian Lokasi penelitian ini adalah kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Tujuh belas kecamatan di mana kekerasan itu terjadi diposisikan sebagai unit observasi atau unit analisis. Pengumpulan data penelitian ini bertumpu pada lima persoalan, konteks, pemicu, sarana, pelembagaan kekerasan dan reaksi atau counter actions kiai. Sumber data primer di antaranya pada sebagian anggota: keluarga korban santet, badan pembina desa (Babinsa), kelompok Gantung, ninja dan keluarga mantan partisan PKI, para tokoh masyarakat (agama, budaya, ormas dan parpol). Sumber sekunder dari dokumen di sebagian kantor Polsek (Polisi Sektor, Kecamatan), Tim Pencari Fakta (TPF) NU dan dokumen Radiogram Bupati Banyuwangi serta dari sumber lain yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Pengumpulan data dilakukan dengan interview mendalam dan observasi tidak langsung. Proses analisis penelitian ini dimulai ketika data dikumpulkan. Pengambilan kesimpulan menggunakan logika deduktif dan induktif yang juga berdasarkan narasi pelaku. Metode analisisnya menggunakan metode triangulasi, interpretatif dan metode diskusi kelompok terfokus (DKT). 3. Hasil Penelitian Nuansa kekerasan yang melekat dalam praktik santet merupakan buah praktik dari ilmu santet. Melekatnya nuansa kekerasan itu dalam praktik santet bersamaan dengan perkembangan budaya praktik santet itu sendiri yang sudah mengalami degradasi. Degradasi ini sampai pada derajat makna, manfaat maupun fungsi santet itu sendiri. Santet dalam perkembangannya bukan lagi ilmu pengasihan yang biasanya dicari orang. Tapi sudah jauh masuk dalam tataran ilmu yang menakutkan, semacam ilmu sihir, ilmu hitam (black magic). | id |