| dc.description.abstract | Kondisi electoral hasil pemilu pasca Orde Baru 1999, 2004, dan 2009 menunjukan adanya ketidakstabilan baik di tingkat Nasional maupun lokal Kota dan Kabupaten Malang. Partai-partai yang lolos threshold seperti PDIP, Golkar, PKB, PPP, PAN, PBB terus mengalami penurunan suara dan memunculkan partai baru seperti PKS dan Demokrat (pemilu 2004), Hanura dan Gerindra (pemilu 2009). Tujuan penelitian ini berupaya untuk menganalisis tingginya electoral volatility, perubahan dan keberlanjutan electoral volatility, serta sumber penyebab terjadinya electoral volatility baik di tingkat Nasional maupun lokal Kota dan Kabupaten Malang. Studi ini hanya menganalisis dependen variable yaitu electoral volatility nasional dan lokal, dengan menggunakan pendekatan komparatif. Unsur utama yang diperbandingan adalah indeks electoral volatility baik secara individual (total volatility) maupun blok ideologis (block volatility). Perhitungan total volatility didasarkan pada rumus Pedersen (1979), sementara perhitungan block volatility didasarkan pada rumusan Paul Pening et.al. (2006). Guna mendukung analisis dalam penelitian ini, penulis mempergunakan data agregat hasil pemilu nasional dan lokal yang diperoleh dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). Selain data kuantitatif, analisis penelitian ini juga dilengkapi dengan data kualitatif yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara mendalam, dan focus group discussion terutama untuk analisis di tingkat lokal. Temuan studi ini menunjukan bahwa electoral volatility Indonesia pasca Orde Baru tergolong tinggi, ada perubahan dan keberlanjutan electoral volatility, serta ada kombinasi penyebab terjadinya sumber electoral volatility baik di tingkat nasional maupun lokal. Rata-rata electoral volatility nasional dari sisi individual partai (total volatility) sebesar 29,15% (pemilu 2004 sebesar 28,55% dan pemilu 2009 sebesar 29,74%). Sementara dari sisi blok ideologis (Islam dan Nasionalis), rata-rata block volatility secara nasional sebesar 6,53% ((pemilu 2004 sebesar 2,22% dan pemilu 2009 sebesar 10,83%). Kondisi electoral volatility nasional tidak jauh berbeda dengan electoral volatility lokal Kota dan Kabupaten Malang. Dari sisi individual partai, ratarata electoral volatility Kota dan Kabupaten Malang (total volatility) sebesar 29,72% dan 22,41%. Di tingkat Kota dan Kabupaten Malang, pada pemilu 2004 electoral volatility sebesar 32,27% dan 27,17% sementara pada pemilu 2009 sebesar 19,82% dan 27,99%. Dari sisi blok ideologis (Islam dan Nasionalis), rata-rata block volatility Kota Malang sebesar 6,47% dengan rincian 2,89% (pemilu 2004) dan 10,05% (pemilu 2009), sementara Kabupaten Malang 7,77% dengan rincian 0,51% (pemilu 2004) dan 15,03% (pemilu 2009). Tingginya electoral volatility Indonesia pasca Orde Baru baik tingkat nasional maupun lokal Kota dan Kabupaten Malang disebabkan oleh kombinasi beberapa faktor: Pertama, faktor Nasional yang terdiri dari sistem pemilu, ambang batas perolehan suara/kursi. Kedua, faktor lokal yang terdiri dari menurunnya dukungan NU dan Muhammadiyah, perpindahan kader dan caleg populer partai. Ketiga, faktor internal partai yang terdiri dari konflik partai, kinerja partai. Keempat, faktor perilaku pemilih: pragmatisme pemilih. | id |