Show simple item record

dc.contributor.authorIBRAHIM, S.FIL.
dc.contributor.editor-
dc.date.accessioned2025-11-20T06:40:20Z
dc.date.available2025-11-20T06:40:20Z
dc.date.issued2013
dc.identifier.isbn-
dc.identifier.issn-
dc.identifier.urihttps://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/66269
dc.identifier.uri
dc.identifier.urihttp://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/42080
dc.description.abstractEtnis Tionghoa menjadi fenomenal dalam dunia politik elektoral sejak reformasi bergulir. Situasi ini mengisyaratkan bahwa terjadi perubahan perilaku politik dalam tubuh etnis Tionghoa. Etnis Tionghoa yang selama ini cenderung a politis, sekarang justru masuk dalam situasi yang berbeda. Meski demikian, sejauh mana perubahan itu terjadi menjadi pertanyaan menarik, semenarik pertanyaan bagaimana perilaku politik sebelumnya mengalami adaptasi dan kontinuasi. Studi ini fokus pada pertanyaan bagaimana perilaku politik Tionghoa di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pertanyaan ini kemudian terkait erat dengan identitas yang menjadi persoalan tak kunjung selesai dari etnis ini. Menarik juga membahas bagaimana kemudian arena bisnis berada di tengah-tengah perilaku politik tersebut. Fokus utama pembahasan studi ini ditelusuri melalui studi kualitatif dengan pendekatan elit. Elit dipilih dengan pertimbangan bahwa elit adalah elemen krusial dari sebuah komunitas dengan karakteristiknya sebagai orang-orang yang menentukan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Studi ini pun menggunakan perspektif konstruktivisme yang melihat bahwa elit politik Tionghoa mereproduksi, mereduksi, memilih, dan menegosiasikan identitasnya dalam ruang-ruang politik yang fleksibel dan situasional. Studi ini menghasilkan beberapa temuan penting. Pertama, ada dua jalur utama yang dipilih oleh elit politik Tionghoa di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yaitu jalur formal dan jalur informal. Jalur formal ditempuh dengan cara berpolitik dalam dunia elektoral dan kepartaian dengan orientasi utama pada kepentingan bisnis dan demokratisasi berbayang alih kelas-alih eksistensi. Sementara jalur informal ditempuh dengan cara menanamkan pengaruh pada kekuasaan untuk kepentingan perluasan agenda bisnis. Di atas dua jalur tersebut, identitas dan finansial adalah dua instrumen penting yang bermain. Kedua, memahami perilaku politik Tionghoa berarti memahami bagaimana tiga titik pembahasan saling bermain; meninggikan dan menopang dalam bentuk piramida politik, yaitu bisnis, kekuasaan, dan identitas. Ketiganya saling berkelindan dan bermain secara kompleks. Ketiga, perspektif konstruktivisme yang menjadi kerangka pikir studi ini perlu mempertimbangkan perspektif lain dalam menganalisis politik identitas. Identitas tidak hanya dikonstruksi, tetapi juga diinstrumentasi. Padahal tidak bisa dinafikkan bahwa pengelompokkan yang sifatnya given adalah faktor primordial sentiment atau attachments yang juga menjadi bagian dari cara pandang primordialisme. Dengan demikian, determinasi perspektif patut dipertimbangkan. Studi ini mengusulkan kombinasi perspektif dalam menelaah politik identitas yang disebut dengan triple-perspective.id
dc.language.iso-
dc.publisher-
dc.titleBISNIS, KEKUASAAN, DAN IDENTITAS (Studi terhadap Perilaku Politik Etnis Tionghoa di Bangka Belitung Pasca Orde Baru)
dc.typeThesis
dc.description.pages-
dc.description.doihttps://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/66269
dc.title.book-
dc.link.scopus-


This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record