| dc.description.abstract | Isu migrasi internasional buruh migran adalah isu yang menarik hampir diseluruh negara di dunia. Tingginya mobilitas penduduk antar negara tersebut menimbulkan banyak masalah yang sulit untuk di kontrol. Beberapa penelitian migrasi buruh ke Malaysia telah banyak dilakukan di Indonesia terutama berkaitan dengan perpindahan penduduk yang bersifat sementara, juga menjelaskan persoalan ketenagakerjaan yang terjadi di Indonesia. Studi yang dilakukan terhadap buruh migran Indonesia di Malaysia memiliki karakteristik: tingkat pendidikan rendah, pengetahuan dan ketrampilan terbatas, termasuk minimnya pengetahuan akan hak-hak mereka sebagai buruh. Rendahnya kualitas yang dimiliki membuat para buruh migran rentan terhadap tindakan eksploitasi dan pengabaian atas hak-hak mereka. Berdasarkan masalah tersebut pertanyaan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana negosiasi kekuasaan dalam jaringan hubungan sosial buruh migran Indonesia di perkebunan sawit di Malaysia Timur?. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran keberadaan buruh migran Indonesia di perkebunan sawit Malaysia Timur sebagai aktor jaringan pertukaran dalam menegosiasikan kekuasaan atau berbagai kepentingannya sebagai buruh migran sementara di Malaysia. Penelitian ini dilaksanakan di daerah perkebunan sawit, Serawak, Malaysia, buruh migran Indonesia yang bekerja di perkebunan sebagai unit analisisnya. Pendekatan dskriptif kualitatif yang lebih menekankan pada proses dan mengekplorasi berbagai fenomena buruh migran digunakan dalam penelitian ini dengan berbagai teknik antara lain observasi partisipasi dan wawancara mendalam kepada informan kunci. Peneliti sebagai instrumen utamanya. Dalam disertasi ini ditemukan bahwa dalam hubungan-hubungan kekuasaan (pertukaran jaringan) antar aktor yaitu buruh migran, calo rekrutmen, aparat dan perusahaan dalam pratik sosial bermigrasi dan bekerja di perkebunan sawit Serawak Malaysia terjadi negosiasi kekuasaan karena dalam pertukaran jaringan kekuasaan yang dibangun terdapat unsur saling percaya, kerjasama saling membutuhkan dan buruh tidak diasumsikan tidak mempunyai kekuasaan, powerless, dalam menghadapi sruktur dominasi yang tidak selalu menghasilkan orang-orang yang patuh karena kekuasaan itu tersebar dimana-mana. Lebih jauh dengan akses jaringan interaksi migrasi dalam rentang ruang dan waktu dapat membantu mereka untuk memobilisasi aturan, kekuasaan, dan sumberdaya dalam upaya untuk mencapai tujuan personal dan kelompok. Hasil negosisasi kekuasaan berupa konsensus yang lentur sehingga memungkinkan adanya tindakan akomodatif diantara para aktor. Tindakan buruh migran dalam tahap ini masih terfragmentasi untuk dapat merubah faktor kelembagaan migrasi dan relasinya dengan perusahaan secara keseluruhan. Melalui wadah perkumpulan dan paguyuban penerapan disiplin diri dan akomodasi dalam kerangka toleransi dan kerjasama, Dengan demikian dapat dijelaskan kehidupan buruh migran tetap diliputi ketidakpastian dalam wujud konsekuensi resiko tinggi. Buruh migran Indonesia di perkebunan sawit Malaysia dalam gambarannya dapat dikatakan dengan istilah juggernaut, bergulir entah kemana ibarat truk besar yang melaju kencang tanpa kendali. Namun demikian negosiasi kekuasaan buruh migran Indonesia di perkebunan Indonesia tetap dapat memberikan implikasi yang positif dalam perlindungan dan kesejahteraan migran di perkebunan sawit Malaysia | id |