| dc.description.abstract | Abstrak Dalam pandangan masyarakat Maluku, budaya sasi adalah salah satu cara pengelolaan sumber daya alam berbasis adat dan oleh karenanya lokus pelaksanaan sasi hanya berlangsung di negeri adat. Namun seiring dengan perjalanan waktu, budaya sasi mulai ditinggalkan sebagai akibat dari berbagai tekanan internal dan eksternal. Selama ini kajian Sasi di Maluku umumnya dilakukan dalam ranah institusi dan pada sasi laut (Novaczek, dkk. 2001; Soselisa, 2001; Satria, 2010). Telaah sasi yang menitikberatkan aspek tradisi dan sasi tanaman hampir tidak tersentuh. Oleh sebab itu, kajian ini mengkhususkan diri pada sasi tanaman pala yang dilihat dari aspek tradisi. Hal ini sekaligus memperlihatkan kebaruan kajian tentang sasi di Maluku. Penerapan budaya sasi pala di Morella saat ini dipicu oleh dua peristiwa penting yakni jatuhnya harga cengkeh pada era BPPC dan konflik bernuansa sara yang menyebabkan pengangguran meningkat secara tajam di Maluku. Pada kondisi demikian tanaman pala menjadi andalan penunjang ekonomi rumah tangga dan dapat dikelola melalui sasi. Observasi awal memperlihatkan 60 persen negeri adat di pulau Ambon menghentikan sasi pala. Di tengah situasi ini, Negeri Morella justru memperkuat basis ekonominya melalui tradisi sasi tanaman pala. Bagaimana negeri ini mampu melaksanakan sasi pala selama sepuluh tahun berturut-tururt dan siapa yang mengambil manfaat dari sasi tanaman pala adalah hal yang penting untuk dikaji. Oleh karenanya, pertanyaan sosiologis yang diajukan adalah: perubahan apa yang terjadi dalam budaya sasi pala dari waktu ke waktu, bagaimana peran agen dalam menentukan bertahannya budaya sasi, dan bagaimana pengaruh budaya setempat dan reproduksi budaya tersebut bagi kelangsungan sasi pala di Morella. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa: pertama, meskipun Morella adalah negeri adat, sasi yang diterapkan adalah tradisi dan ada ruang untuk melakukan kontekstualisasi. Terdapat dua periode pelaksanaan sasi yakni periode sasi pala untuk kepentingan pembangunan mesjid pada tahun 1968 dan periode kedua (2004-sekarang) untuk kepentingan ekonomi rumah tangga. Kedua, tokoh adat dan pemerintah sangat berperan pada sasi periode pertama. Sementara pada sasi periode kedua, pelaku ekonomilah yang berperan sangat aktif. Ketiga, meskipun pada sasi pala periode kedua kepentingan ekonomi menjadi prioritas, namun landasan agama (budaya) yang direpresentasikan melalui kepentingan mesjid masih menjadi hal yang diperhitungkan dalam menentukan keberlangsungan sasi. Secara umum dengan mengikuti pola penerapan sasi pala di Morella yang dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan jaman, kajian ini berkesimpulan bahwa sasi sebagai salah satu alamat sandaran ekonomi masih dapat dilaksanakan di Maluku baik di negeri adat maupun bukan. Kesimpulan ini sekaligus merupakan kontribusi penting terhadap upaya penataan kehidupan ekonomi masyarakat di Maluku dan upaya menutupi kesenjangan kajian akademik tentang sasi darat terutama tanaman pala. | id |