Show simple item record

dc.contributor.authorDANANG PURWANTO, S.SOS.
dc.contributor.editor-
dc.date.accessioned2025-11-20T06:42:10Z
dc.date.available2025-11-20T06:42:10Z
dc.date.issued2016
dc.identifier.isbn-
dc.identifier.issn-
dc.identifier.urihttps://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/94274
dc.identifier.uri
dc.identifier.urihttp://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/42114
dc.description.abstractStudi ini mengkaji politik aliran Pasca Orde Baru : Studi Preferensi Politik Pemilu Legislatif Tahun 2009 dan 2014 di Sangkrah dan Kauman Kota Solo. Realitas politik aliran dan pergeseran preferensi politik dalam pemilu legislatif di Sangkrah dan Kauman di telusuri dengan perspektif politik aliran pasca Orde Baru. Studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan menggunakan dokumen. Politik aliran merupakan perebutan kekuasaan yang berbasis kultur dan ideologi melalui pemilihan umum. Studi ini menggunakan teori Geertz (1960) trikotomi, yaitu abangan, santri, priyayi sebagai dasar untuk memahami kultur masyarakat. Sedangkan untuk memahami ideologi politik sebagaimana dikategorikan oleh Faith & Castel (1988 ) dengan cara melihat pembilahan kepartaian di Indonesia yang terbagi menjadi lima kategori yaitu Nasionalis Radikal, Komunis, Sosialis Demokrat , Tradisional Jawa, dan Islam. Lima pembagian ideologi tersebut disamping mengkategorikan berbagai aliran ideologi politik dan sebagai bagian dari ketegangan antara warisan-warisan tradisi Hindu-Budha yang terpisah dengan Islam. Kemudian Ufen (2006) mengkatagorikan akar sosial kultural partai politik di Indonesia, berorientasi aliran menjadi dua yaitu (1) Sekuler terdiri dari PDI P, Golkar, Demokrat, Gerindra, Hanura. (2) Islam terdiri dari PKB, PPP, PAN, PKS, PBB. Kesimpulan dari studi ini, antara lain (1) Politik aliran pada Pasca Orde Baru baik di Sangkrah maupun di Kauman menguat. (2) Secara kultural artikulasi politik aliran di Sangkrah termanifestasi pada kehidupan sosial yang mengikuti siklus kehidupan di Jawa yaitu kelahiran, perkawinan, dan kematian serta dikontrol oleh praktek mitologi, mistifikasi, dan sakralisasi. Sebaliknya di Kauman politik aliran diartikulasikan secara kultural melalui ritual-ritual keagamaan. (3) Secara ideologis politik aliran di Sangkrah diartikulasikan melalui menguatnya nasionalisme, marheinisme, dan Soekarnoisme. Sedangkan di Kauman menguatnya Islamisme yang mengintegrasikan negara dan agama. (4)Menguatnya politik aliran yang berbasis kultur dan ideologi menjadi dasar preferensi dan pilihan politik dalam Pemilu pasca Orde Baru. Hanya saja di Kauman terjadi pergeseran. Karena Kehadiran negara dan modernisasi sehingga di Kauman partai sekuler-nasionalis menang. Hasil studi ini mengonfirmasi studi Ufen (2006) bahwa masih eksisnya akar sosio-kultural partai politik di tingkat lokal khususnya di Sangkrah dan Kauman. Akan tetapi di Sangkah terjadi kontinuitas preferensi politik wong abangan dan di Kauman terjadi pergeseran preferensi politik kaum santri. Jika mengacu atau merujuk argumen Turmudi (2004) hasil temuan ini mirip karena politik aliran antara pemilu 1999 dan politik aliran pada Pemilu 2009 dan 2014 masih terjadi kontinuitas. Oleh karena itu, perspektif politik aliran masih dapat digunakan untuk menjelaskan preferensi politik aliran pasca Orde Baru di kampung Sangkrah dan Kaumanid
dc.language.iso-
dc.publisher-
dc.titlePOLITIK ALIRAN PASCA ORDE BARU (Studi Preferensi Politik Pemilu Legislatif Tahun 2009 Dan 2014 Di Kampung Sangkrah Dan Kauman, Kota Solo)
dc.typeThesis
dc.description.pages-
dc.description.doihttps://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/94274
dc.title.book-
dc.link.scopus-


This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record