| dc.description.abstract | Paper ini bertujuan untuk membahas tentang adaptasi masyarakat petani Desa Tegalrejo Kecamatan Gedangsari Kabupaten Gunungkidul terhadap lingkungan. Hal tersebut akan mengarah pada upaya-upaya masyarakat petani Desa Tegalrejo dalam mempertahankan eksistensinya di tengah laju pembangunan. Sedikitnya ada empat pertimbangan penting yang mendasari mengapa peneliti memilih lokasi penelitian di desa Tegalrejo. Pertama, lokasi penelitian merupakan desa dengan mata pencaharian tertinggi penduduknya adalah petani yaitu 3.316. Kedua, jumlah kepemilikan lahan tanah, baik sawah maupun tegalan yang kurang dari 0,2 ha, cukup tinggi yaitu 3.956. Ketiga, berdasarkan hasil pendataan pendidikan angkatan kerja di Kecamatan Gedangsari merupakan desa tertinggi yang jumlah penduduknya tidak tamat SD yaitu 3.019. Keempat, penduduk yang melakukan mobilitas ke daerah lain (daerah kota) ataupun mempunyai pekerjaan di luar sektor pertanian cukup tinggi dalam rangka melakukan adaptasi terhadap berbagai perubahan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan hidupnya. Penelitian yang dilakukan adalah deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha menggambarkan atau menguraikan apa adanya tentang suatu variabel, gejala atau keadaan. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang mencoba memberikan interpretasi secara mendalam terhadap temuan-temuan lapangan berdasarkan fakta-fakta sosial yang sebenarnya. Bogdan dan Tailor memberikan pengertian tentang teknik penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Adaptasi dalam proses inovasi, pada masyarakat desa terlihat jelas adanya campur tangan dari alam. Elemen-elemen alam seperti udara, iklim, keadaan tanah, curah hujan, dan semacamnya meskipun nampaknya cukup bervariasi akan tetapi secara umum adalah bersifat ajeg dan teratur. Menghadapi hal-hal yang ajeg dan teratur ini maka tehnik-tehnik yang diperlukan untuk produksi pertanian juga bersifat ajeg dan sederhana. Dalam keadaan semacam inilah masyarakat desa tidak membutuhkan inovasi. Faktor alam juga banyak mempengaruhi proses-proses pembentukan kepribadian masyarakat desa. Sebagai akibat dari sangat dekatnya dengan alam, maka orang desa mengembangkan filsafat hidup yang berbeda dengan orang kota. Faktor alam terlihat pula pengaruhnya terhadap pola-pola kebiasaan mereka. Karena proses-proses yang terkait dalam pertanian itu seirama dengan alam, maka orang desa juga mengembangkan kebiasaan-kebiasaan yang seirama dengan alam itu. Sebagai gambaran, pada tanaman padi atau gandum, semenjak tumbuh hingga panen tanaman tersebut selalu melewati proses-proses serta tahapan tertentu yang bersifat ajeg. Sekalipun dengan menggunakan tehnik-tehnik tertentu orang dapat memperpendek usia tanaman atau meningkatkan produksi, tetapi tetap terbatas. Orang tidak dapat mempercepat proses pertumbuhan tanaman seperti memutar mesin. Akibatnya orang desa terbiasa dengan pola kebiasaan hidup yang lamban. | |