Show simple item record

dc.contributor.authorRatnasari Paraisu, AAGN Ari Dwipayana
dc.contributor.editor-
dc.date.accessioned2025-11-25T05:42:03Z
dc.date.available2025-11-25T05:42:03Z
dc.date.issued2015
dc.identifier.isbn-
dc.identifier.issn-
dc.identifier.urihttps://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/118661
dc.identifier.uri
dc.identifier.urihttp://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/47848
dc.description.abstractINTISARI Studi ini akan mendiskusikan mengenai praktek bias wacana daratan dalam pembangunan kewilayahan Kabupaten Pulau Morotai. Minat untuk studi ini berawal dari keprihatinan penulis terhadap kehidupan masyarakat di daerah kepulauan yang kaya akan sumberdaya kelautan, namun mereka masih terbelenggu dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Kabupaten Pulau Morotai yang kemudian menjadi lokasi studi ini karena Morotai merupakan daerah otonomi baru yang kaya akan potensi sektor kelautan. Kerangka teoritik yang dipakai adalah pembangunan kewilayahan dan bias-bias dalam pembangunan (Chambers). Kerangka ini dipakai karena dipandang bisa menjelaskan mengenai praktek bias wacana daratan yang terjadi. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus (case study). Data penelitian diambil dalam enam bulan, dari November 2014 - April 2015. Dari penelitian ini didapatkan beberapa kesimpulan. Pertama, dengan meminjam pemikiran Chambers mengenai bias-bias pembangunan yang terjadi, maka didapatkan ada empat bias yang mempengaruhi yaitu bias tempat, bias proyek, bias musim dan bias elit. Keempat bias ini yang kemudian berpengaruh memunculkan praktek bias wacana daratan tersebut di kabupaten Pulau Morotai. Kedua, akibat keempat bias pembangunan tersebut, mengakibatkan ketidakselarasan antara perencanaan pembangunan wilayah dengan pelaksanaan pembangunan yang terjadi. Morotai sendiri mempunyai pembangunan wilayah pesisir namun dalam realitanya pembangunan wilayah lebih mengarah ke pembangunan yang bersifat land based (daratan). Ketiga, terkait dengan praktek bias wacana daratan tersebut juga menghasilkan marjinalisasi terhadap sektor kelautan. Di mana sektor kelautan yang seharusnya menjadi sektor utama dalam pembangunan wilayah pesisir Morotai seakan dianaktirikan akibat mindset pembangunan yang lebih memperhatikan dan fokus terhadap sektor-sektor pembangunan yang berbasis di daratan. Keempat, selain marjinalisasi sektor kelautan yang ada, ada hal menarik yang ditemukan di Morotai yaitu menyangkut kultur mata pencaharian masyarakat Morotai yang ternyata mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani kelapa, hal ini menarik mengingat Morotai merupakan daerah pesisir yang seharusnya nelayan menjadi mata pencaharian utama yang digeluti oleh masyarakat. Namun pada realitanya, kultur ini dibangun secara turun-temurun oleh masyarakat yang pada akhirnya menjadi bagian dari bentuk bias wacana daratan dari sisi masyarakat. Kata kunci: Bias Wacana Daratan, Pembangunan Wilayah, Sektor Kelautan, Morotai.
dc.language.iso-
dc.publisherFakultas ISIPOL Politik dan Pemerintahan
dc.titlePraktek Bias Wacana Daratan dalam Pembangunan Wilayah (Studi Tentang Kabupaten Pulau Morotai)
dc.typeThesis
dc.description.pages-
dc.description.doihttps://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/118661
dc.title.book-
dc.link.scopus-


This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record