Show simple item record

dc.contributor.authorSudibyo, Sudibyo
dc.date.accessioned2026-05-30T10:12:27Z
dc.date.available2026-05-30T10:12:27Z
dc.date.issued2012-08-03 00:00:00
dc.identifier.issn2302-9269
dc.identifier.issn0852-0801
dc.identifier.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/662
dc.identifier.uri10.22146/jh.662
dc.identifier.urihttp://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/84818
dc.description.abstractDalam tradisi kesusastraan Melayu klasik, jarang terjadi suatu teks muncul hanya dalam satu naskah. Pada umumnya, sebuah teks hadir melalui beberapa naskah dan dengan wajah yang berbeda-beda . Hal ini disebabkan oleh beberapa hal . Pertama, adanya keinginan yang kuat untuk menyebarkan informasi yang terkandung dalam teks yang dipandang penting yang menyebabkan teks periu ditransmisikan . Kedua, dalam perjalanannya, teks melintasi bates ruang dan waktu yang berakibat teks rentan terhadap perubahan. Perubahan ini terutama disebabkan oleh resepsi dan interpretasi dalam proses transmisi dengan tujuan menyesuaikan salinan dengan suatu kondisi tertentu. Ketiga, teks sendin kadang-kadang memuat imbauan agar dirinya direnovasi, dikoreksi, dan disempumakan (Kratz, 1981 : 233) . Keempat, adakalanya dalam proses transmisi dipergunakan referensi yang menyebabkan terjadinya percampuran tradisi (Teeuw, 1986: 7) . Semua ini dimungkinkan karena teks Nadir dalam onimitas (bdk. Genette, 1997 : 39) dan anonimitas (Braginsky, 1993 :2) . Dalam tradisi kesusastraan Melayu klasik, onimitas, dalam hal ini onimitas peran naratorial diwujudkan dengan penyebutan nama did, dalang, yang empunya cerita, paramakawi, 52 bujangga, dagang, gharib, musafir, dan faqir (Koster, 1997 : 54). Onimitas peran naratorial ini hampir selalu berhubungan dengan fungsi dan genre sastra tertentu . Dalang, misalnya, dapat dipastikan mengacu pada cerita-cerita yang berfungsi menghibur atau melipur . Wahananya berupa hikayat dan syair percintaan, keajaiban, dan petualangan, misalnya cerita Panji dan cerita wayang, baik berupa prosa maupun puisi . Dagang hanya muncul dalam cerita-cerita yang berfungsi memberi faedah atau member manfaat. Adapun genre yang menjadi medianya adalah cermin-cermin didaktis bagi para raja dan pegawai istana, antologi-antologi didaktis, dan kronik-kronik sejarah (lihat Braginsky, 1994 : 2). Gharib, musafir dan faqir hadir dalam cerita-cerita yang berfungsi menyucikan rohani atau hail nurani manusia . Genre yang menjadi wahananya ialah kitab-kitab agama, tasawuf, hagiografi, dan alegori-alegori sufi, balk berupa prosa maupun puisi .
dc.formatapplication/pdf
dc.language.isoeng
dc.publisherFaculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
dc.relation.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/662/508
dc.rightsCopyright (c) 2012 Sudibyo Sudibyo; http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
dc.subject-
dc.titleBukan Dua Sisi Dari Sekeping Mata Uang Pernaskahan dan Perteksan dalam Tradisi Sastra Melayu Klasik
dc.typeArticle
dc.identifier.oaioai:jurnal.ugm.ac.id:article/662
dc.journal.infoHumaniora; Vol 11, No 2 (1999); 52-60


This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record