Show simple item record

dc.contributor.authorUdasmoro, Wening
dc.date.accessioned2026-05-30T10:13:46Z
dc.date.available2026-05-30T10:13:46Z
dc.date.issued2012-08-03 00:00:00
dc.identifier.issn2302-9269
dc.identifier.issn0852-0801
dc.identifier.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/669
dc.identifier.uri10.22146/jh.669
dc.identifier.urihttp://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/84825
dc.description.abstractWayang memiliki cara tersendiri untuk mengungkapkan kandungan isinya . Ada dua unsur dasar dalam penampilan wayang yang keduanya menyimpan makna filosofis, yaitu unsur cerita dan unsur noncerita. Pada unsur cerita, seperti telah dijelaskan di atas, wayang memiliki perbedaan dengan cerita asalnya . Sebagai contoh, dalam cerita Mahabarata versi India tidak ditonjolkan peran anak keturunan Pandawa (Lal, 1992), sementara dalam cerita versi Jawa, dilakukan pengembangan cerita terhadap tokoh-tokoh keturunan Pahdawa yang tidak muncul dalam cerita sumbernya, seperti Gatotkaca, Antareja, Wisanggeni, dan sebagainya. Tokoh-tokoh Punakawan (Semar, Gareng, Petruk, dan sejak abad XVII Bagong) yang muncul di pertengahan cerita dalam adegan gara-gara (kondisi dunia dalam keadaan kacau), dianggap betul-betul bersifat Jawa karena tidak terdapat dalam epos di India (Magnis-Suseno, 1993) .
dc.formatapplication/pdf
dc.language.isoeng
dc.publisherFaculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
dc.relation.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/669/515
dc.rightsCopyright (c) 2012 Wening Udasmoro; http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
dc.subject-
dc.titleMEMAHAMI KARAKTERISTIK UNCONSCIOUS FILOSOFI JAWA MELALUI TOKOH WAYANG BIMA
dc.typeArticle
dc.identifier.oaioai:jurnal.ugm.ac.id:article/669
dc.journal.infoHumaniora; Vol 11, No 3 (1999); 38-48


This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record