Show simple item record

dc.contributor.authorWidodo, Pratomo
dc.date.accessioned2026-05-30T10:18:42Z
dc.date.available2026-05-30T10:18:42Z
dc.date.issued2012-08-03 00:00:00
dc.identifier.issn2302-9269
dc.identifier.issn0852-0801
dc.identifier.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/702
dc.identifier.uri10.22146/jh.702
dc.identifier.urihttp://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/84857
dc.description.abstractDalam kaitannya dengan bahasa sebagai sistem tanda, Buhler, seperti dikutip oleh Pelz (1984), menggambarkan proses komunikasi sebagai segi tiga semiotik, segi yang pertama melambangkan pembicara sebagai penyampai pesan, segi yang kedua melambangkan pendengar sebagai penerima pesan, dan segi yang ketiga adalah lambang dari Gegenstand yang merupakan referensi dari realitas objek yang dibicarakan . Agar proses komunikasi tersebut berhasil, harus ada kegayutan clan ketiga elemennya . Apabila tidak ada kegayutan dari salah satu elemennya, niscaya proses komunikasi akan gagal . Berhasil atau tidaknya proses komunikasi, salah satunya ditentukan oleh pemahaman antara pembicara dan pendengar mengenai objek yang dibicarakan . Oleh sebab itu, referensi mengenai tuturan dalam suatu peristiwa komunikasi harus dipahami oleh kedua belah pihak, yaitu pembicara dan pendengar.
dc.formatapplication/pdf
dc.language.isoeng
dc.publisherFaculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
dc.relation.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/702/548
dc.rightsCopyright (c) 2012 Pratomo Widodo; http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
dc.subject-
dc.titleREGISTER PEMANDUAN WISATA
dc.typeArticle
dc.identifier.oaioai:jurnal.ugm.ac.id:article/702
dc.journal.infoHumaniora; Vol 12, No 3 (2000); 295-305


This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record