Show simple item record

dc.contributor.authorPurwanto, Bambang
dc.date.accessioned2026-05-30T10:20:03Z
dc.date.available2026-05-30T10:20:03Z
dc.date.issued2012-08-03 00:00:00
dc.identifier.issn2302-9269
dc.identifier.issn0852-0801
dc.identifier.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/709
dc.identifier.uri10.22146/jh.709
dc.identifier.urihttp://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/84864
dc.description.abstractKetika sastra dan sejarah dibicarakan secara bersama-sama, segera muncul pertanyaan, apakah ada fiksi di dalam sejarah dan apakah ada fakta di dalam sastra? Bagi sebagian orang, pertanyaan itu mungkin kedengaran agak aneh dan seolah-olah hanya dibuat-buat karena secara umum sastra selalu dikaitkan dengan fiksi, sedangkan sejarah tidak dapat dipisahkan dari fakta masa lalu. Hal itu berarti bahwa pernyataan di atas tidak memerlukan jawaban. Akan tetapi, persoalan menjadi lain ketika perbincangan tentang sastra dan sejarah memasuki dunia wacana dekonstruktif di samping rekonstruktif. Sebagai sebuah realitas, sejarah dan sastra sering dianggap berada dalam tataran yang sama. Fiksi dan sejarah tidak dapat begitu saja secara kaku diasosiasikan hanya dengan salah satu di antara keduanya, yaitu hanya berkaitan dengan sastra atau hanya dengan sejarah.
dc.formatapplication/pdf
dc.language.isoeng
dc.publisherFaculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
dc.relation.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/709/555
dc.rightsCopyright (c) 2012 Bambang Purwanto; http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
dc.subject-
dc.titleHistorisme Baru dan Kesadaran Dekonstruktif: Kajian Kritis terhadap Historiografi Indonesiasentris
dc.typeArticle
dc.identifier.oaioai:jurnal.ugm.ac.id:article/709
dc.journal.infoHumaniora; Vol 13, No 1 (2001); 29-44


This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record