Show simple item record

dc.contributor.authorNurgiyantoro, Burhan
dc.date.accessioned2026-06-02T00:36:52Z
dc.date.available2026-06-02T00:36:52Z
dc.date.issued2012-08-04 00:00:00
dc.identifier.issn2302-9269
dc.identifier.issn0852-0801
dc.identifier.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/769
dc.identifier.uri10.22146/jh.769
dc.identifier.urihttp://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/84912
dc.description.abstractMunculnya unsur cerita wayang dan bentuk-bentuk transformasinya pada karya fiksi Indonesia secara intensif baru terlihat pada pertengahan tahun 70-an, yaitu dengan Umar Kayam, dan beberapa tahun sebelumnya Danarto menulis cerpen Nostalgia yang bersumber pada cerita Abimanyu gugur. Setelah itu karya-karya berikutnya menyusul seperti Pengakuan Pariyem (Linus Suryadi), Burung-burung Manyar dan Durga Umayi (Mangunwijaya), Canting (Arswendo Atmowiloto), Para Priyayi (Umar Kayam), Perang (Putu Wijaya), atau bahkan karya yang berangkat dari cerita wayang itu sendiri seperti Anak Bajang Menggiring Angin (Sindhunata), Balada Cinta Abimanyu dan Lady Sundari dan Balada Narasoma (Agusta T. Wibisono), Asmaraloka (Danarto), cerpen "Karna" dan "Gatotkaca" (Bakdi Sumanto), dan cerpen-cerpen dalam Baratayuda di Negeri Antah Berantah (Pipit RK). Kecuali Putu Wijaya yang berasal dari Bali, para pengarang tersebut adalah beretnis Jawa sehingga boleh dikatakan bahwa para pengarang dari Jawalah yang banyak mentransformasikan cerita wayang ke dalam sastra Indonesia.
dc.formatapplication/pdf
dc.language.isoeng
dc.publisherFaculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
dc.relation.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/769/614
dc.rightsCopyright (c) 2012 Burhan Nurgiyantoro; http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
dc.subject-
dc.titleWayang Dalam Fiksi Indonesia
dc.typeArticle
dc.identifier.oaioai:jurnal.ugm.ac.id:article/769
dc.journal.infoHumaniora; Vol 15, No 1 (2003); 1-14


This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record