Show simple item record

dc.contributor.authorNugroho, Akhmad
dc.date.accessioned2026-06-02T00:38:22Z
dc.date.available2026-06-02T00:38:22Z
dc.date.issued2012-08-04 00:00:00
dc.identifier.issn2302-9269
dc.identifier.issn0852-0801
dc.identifier.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/786
dc.identifier.uri10.22146/jh.786
dc.identifier.urihttp://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/84929
dc.description.abstractKetoprak, sebagai salah satu jenis teater daerah Jawa, pertama kali muncul di Yogyakarta sekitar tahun 1925. Cerita yang dipentaskan mula-mula bersumber dari dongeng seperti Jaka Tarub, Piti Tumpa, dan Panji, kemudian meningkat ke cerita adaptasi seperti Menak, Sam Pek Ing Tay, dan Si Jin Kui (Harymawan, l993:229). Dari segi cerita itulah, ketoprak menunjukkan adanya perubahan sesuai dengan kreativitas pengarangnya. Kebaruan-kebaruan juga terjadi pada sastra daerah lain di Indonesia ini., seperti dalam sastra daerah Minangkabau, drama Puti Bungsu karya Wisran Hadi adalah resepsi warisan budaya lama Minangkabau yang diciptakan kembali sesuai dengan konteks masa kini (Teeuw, l988:216). Wisran Hadi dalam dramanya itu menggunakan beberapa sumber, pertama-tama tentu saja Malin Kundang, kemudian kedua Malin Deman, dan bahkan mengambil sumber yang ketiga Sangkuriang dari Sunda (Junus, l985:39). Wisran Hadi juga menulis teks sandiwara Cindua Mato yang dapat dihubungkan dengan mitos Minangkabau Cindua Mato, tampak hubungan tradisi dan modernitasnya (Esten, l992).
dc.formatapplication/pdf
dc.language.isoeng
dc.publisherFaculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
dc.relation.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/786/631
dc.rightsCopyright (c) 2012 Akhmad Nugroho; http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
dc.subject-
dc.titleInovasi dalam cerita Ketoprak Anglingdarma
dc.typeArticle
dc.identifier.oaioai:jurnal.ugm.ac.id:article/786
dc.journal.infoHumaniora; Vol 15, No 2 (2003); 181-190


This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record