Show simple item record

dc.contributor.authorSuherman, Eman
dc.date.accessioned2026-06-02T00:41:08Z
dc.date.available2026-06-02T00:41:08Z
dc.date.issued2012-08-06 00:00:00
dc.identifier.issn2302-9269
dc.identifier.issn0852-0801
dc.identifier.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/819
dc.identifier.uri10.22146/jh.819
dc.identifier.urihttp://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/84959
dc.description.abstractDari beberapa kelas sosial, yakni kaum samurai, petani, tukang, dan kaum pedagang (dikenal dengan sebutan Shinookooshoo) yang ada dalam masyarakat Jepang, sejak pemerintahan Tokugawa Bakufu hingga berakhirnya Perang Dunia II, kaum petani Jepang merupakan kelas yang paling menderita dalam menanggung hidupnya . Mereka mendapat perlakuan yang tidak adil dari para penguasa negara, di antaranya dalam hal pembayaran pajak yang begitu mencekik leher mereka . Kaum petani tidak mendapatkan perhargaan yang layak seperti yang dialami kelas-kelas sosial lainnya . Padahal kaum petanilah yang menjadi "tulang punggung" para penguasa negara dan kelas-kelas sosial lainnya .
dc.formatapplication/pdf
dc.language.isoeng
dc.publisherFaculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
dc.relation.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/819/661
dc.rightsCopyright (c) 2012 Eman Suherman; http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
dc.subject-
dc.titleDinamika Masyarakat Jepang Dari Masa Edo Hingga Pasca Perang Dunia II
dc.typeArticle
dc.identifier.oaioai:jurnal.ugm.ac.id:article/819
dc.journal.infoHumaniora; Vol 16, No 2 (2004); 201-210


This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record