Show simple item record

dc.contributor.authorMuljono, Muljono
dc.date.accessioned2026-06-02T01:09:55Z
dc.date.available2026-06-02T01:09:55Z
dc.date.issued2013-05-16 00:00:00
dc.identifier.issn2302-9269
dc.identifier.issn0852-0801
dc.identifier.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/1867
dc.identifier.uri10.22146/jh.1867
dc.identifier.urihttp://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/85244
dc.description.abstractTulisan ini merupakan telaah terhadap situasi-situasi yang banyak menggunakan verba berprefiks di-, dan pola-pola pemakaiannya sehubungan dengan kondisi sosial budaya masyarakat yang menjadi 'pengetahuan budaya' yang dimiliki bersama oleh masyarakat yang bersangkutan (Hudson, 1980:77). Ada dorongan di sini untuk mengungkapkan kesopanan yang ber1ainan dengan ungkapan biasa, dan pilihannya jatuh pada verba  berprefiks di-, yang asal mulanya merupakan bentuk sUbjungtif. Di-, yang mula-mula hanya digunakan untuk persona ketiga, kini dipakai untuk persona kedua.
dc.formatapplication/pdf
dc.language.isoeng
dc.publisherFaculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
dc.relation.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/1867/1674
dc.rightsCopyright (c) 2013 Muljono Muljono; http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
dc.subjectdi- , honorifik, kesopanan, prefiks, sosial, verba
dc.titleHonorifik di- dalam Percakapan
dc.typeArticle
dc.identifier.oaioai:jurnal.ugm.ac.id:article/1867
dc.journal.infoHumaniora; No 6 (1997)


This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record