Show simple item record

dc.contributor.authorManshur, Fadlil Munawwar
dc.date.accessioned2026-06-02T01:10:32Z
dc.date.available2026-06-02T01:10:32Z
dc.date.issued2013-05-17 00:00:00
dc.identifier.issn2302-9269
dc.identifier.issn0852-0801
dc.identifier.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/1875
dc.identifier.uri10.22146/jh.1875
dc.identifier.urihttp://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/85250
dc.description.abstractPesantren dan kitab merupakan dua entitas yang saling berhubungan erat.Dalam tradisl pengajaran agama Islam antara pesantren dan kitab tidak dapat dipisahkan, karena alasan pokok munculnya pesantren adalah untuk mentransmsikan Islam tradisional sebaqaimana yang terdapat dalam kitab-kitab klasik yang ditulis berabad-abad yang lalu. Kitab-kitab ini dikenal di Indonesia sebagai kitab kuning (Bruinessen, 1995:17). Di dunia pesantren kitab-kitab itu kuning dikaji, diresepsi, dan dijadikan acuan moral oleh masyarakatpesantren (kiai dan santri) dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran-ajaran Islam ini ada yang ditulis dalam kitab-kitab kuning yang bercorak sastra, antara lain Kasidah Burdah karangan Muhammad Al-Busin. Di antara pesantren yang mengajarkan kitab Kasidah Burdah (selanjutnya disebut KB) kepada santrinya adalah Pesantren Darussalam Ciamis.
dc.formatapplication/pdf
dc.language.isoeng
dc.publisherFaculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
dc.relation.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/1875/1682
dc.rightsCopyright (c) 2013 Fadlil Munawwar Manshur; http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
dc.subjectIslam, kitab Kasidah Burdah, pesantren, tradisi
dc.titleKitab Kasidah Burdah: Tradisi Pembacaan dan Resepsinya
dc.typeArticle
dc.identifier.oaioai:jurnal.ugm.ac.id:article/1875
dc.journal.infoHumaniora; No 5 (1997)


This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record