Show simple item record

dc.contributor.authorSudibyo, Sudibyo
dc.date.accessioned2026-06-02T01:14:43Z
dc.date.available2026-06-02T01:14:43Z
dc.date.issued2013-06-03 00:00:00
dc.identifier.issn2302-9269
dc.identifier.issn0852-0801
dc.identifier.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/1934
dc.identifier.uri10.22146/jh.1934
dc.identifier.urihttp://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/85275
dc.description.abstractPenyebaran cerita wayang ke wilayah kebudayaan Melayu terjadi ketika orang Jawa berimigrasi ke daerah di sekitar pulau mereka. Peristiwa inl terjadi pada abad-9 (Brandon, 1970:9-10). Kebudayaan Jawa mencapai puncaknya pada abad ke-11 dan abad ke-15. Cerita wayang tentu sudah populer. Barangkali hal ini dapat ditunjukkan dengan banyaknya versi cerita wayang yang terdapat dalam khazanah kesusasteraan Melayu. Melihat kenyataan ini, menarik untuk dipertanyakan apakah pada saat wiracerita Mahabharata disalin ke dalam bahasa Melayu, wiracerita itu mempunyai fungsi yang sama dengan wiracerita Mahabharata di wilayah kebudayaan lain.
dc.formatapplication/pdf
dc.language.isoeng
dc.publisherFaculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
dc.relation.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/1934/1738
dc.rightsCopyright (c) 2013 Sudibyo Sudibyo; http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
dc.subjectadaptasi, Mahabhatara, Melayu, wayang
dc.titleWiracerita Mahabhatara di Mata Penyalin Melayu: Resepsi dan Transformasi Cerita Bhartayuddha di dalam Hikayat Pandawa Lima dan Hikayat Darmawangsa
dc.typeArticle
dc.identifier.oaioai:jurnal.ugm.ac.id:article/1934
dc.journal.infoHumaniora; No 4 (1997)


This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record