<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<title>Jurnal Universitas Gadjah Mada</title>
<link href="http://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/81888" rel="alternate"/>
<subtitle>E-Jurnal UGM</subtitle>
<id>http://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/81888</id>
<updated>2026-05-30T12:02:14Z</updated>
<dc:date>2026-05-30T12:02:14Z</dc:date>
<entry>
<title>Analisis Komparasi Lintas Budaya</title>
<link href="http://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/84887" rel="alternate"/>
<author>
<name>Poerwanto, Hari</name>
</author>
<id>http://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/84887</id>
<updated>2026-05-30T10:25:41Z</updated>
<published>2012-08-03T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Analisis Komparasi Lintas Budaya
Poerwanto, Hari
Disamping bersifat akademik, berbagai kajian tentang kebudayaan  suku-suku bangsa di Indonesia memiliki tujuan praktis. Secara akademik dimaksudkan untuk pengembangan ilmu  pengetahuan, sedangkan salah satu manfaat praktis adalah untuk  kepentingan pembangunan dalam arti luas. Pada masa penjajahan,  pengetahuan mengenai suku-bangsa dan kebudayaan di Indonesia pernah diterapkan guna menguasai dan mengatur  anak negeri. Karenanya, setelah kemerdekaan pengetahuan tentang  keanekaragaman sukubangsa dan kebudayaan di Indonesia merupakan bahan penting untuk integrasi  nasional dan pembangunan di Indonesia. Secara teoretik, Swartz (1968) berpendapatbahwa sejarah merupakan  serangkaianperistiwa unik dan spesifik yang pernah terjadi, dan tidak  akan pernah terulang kembali. Berbagai peristiwa unik dan spesifik harus  dikaji lebih jauh secara kritis, dan bukan hanya sekedar untuk  menjelaskan sesuatu yang descriptive integration. Seorang peneliti harus mengetes  dan memperbarui teorinya, termasuk pula mengupayakan suatu generalisasi  guna mendukung argumentasinya melalui berbagai fakta empirik dan  keteraturan-keteraturan lainnya. Tanpa didukung oleh suatu referensi  yang berkaitan dengan dalil-dalil umum atau general laws yang ada, maka seseorang itu hanya membuat kiasan belaka.  Penelitian komparasi lintasbudaya merupakan komponen yang valid untuk  melakukan generalisasi dari masyarakat dan kebudayaan manusia yang  tersebar luas di muka bumi.
</summary>
<dc:date>2012-08-03T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Mitos Menstruasi: Konstruksi Budaya Atas Realitas Gender</title>
<link href="http://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/84886" rel="alternate"/>
<author>
<name>Abdullah, Irwan</name>
</author>
<id>http://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/84886</id>
<updated>2026-05-30T10:25:26Z</updated>
<published>2012-08-03T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Mitos Menstruasi: Konstruksi Budaya Atas Realitas Gender
Abdullah, Irwan
Rahim merupakan sumber dari berbagai persoalan yang dihadapi perempuan yang memiliki implikasi yang luas dalam penataan sosial (Lupton, 1994). Karena memiliki rahim, perempuan harus menghadapi menstruasi, kehamilan, melahirkan, bahkan menopause. Fakta biologis ini secara langsung membedakan perempuan dengan laki-laki yang bersifat kodrati. Persoalan yang dihadapi perempuan dan laki-laki kemudian menjadi sangat berbeda karena alasan laki-laki tidak memiliki rahim. Adanya rahim ini menyebabkan perempuan memiliki cacat bawaan karena ia membawa serta serangkaian “penyakit” yang harus diderita kaum perempuan yang oleh Morris (1993: 104) dikatakan menyebabkan terjadinya histeria yang merupakan gangguan terhadap keseluruhan pengaturan suhu tubuh dalam proses biologisnya. Penyakit semacam ini telah membentuk dikotomi yang tegas antara “penyakit perempuan” dan “penyakit laki-laki”   Tulisan ini merupakan usaha untuk mengkaji bagaimana mitos tentang menstruasi yang terkait dengan kultur suatu masyarakat memiliki implikasi yang luas dalam penataan sosial, khususnya dalam pembentukan dan pelestarian hubungan gender dalam masyarakat. Apakah, misalnya, menstruasi dapat menjadi tanda dari adanya negosiasi kekuasaan yang berlangsung dalam suatu setting sosial tertentu dan bagaimana proses dekonstruksi terhadap realitas seksual itu dapat terjadi.
</summary>
<dc:date>2012-08-03T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>The Pursuit Of Happiness In American Mind And In Javanese Thought</title>
<link href="http://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/84885" rel="alternate"/>
<author>
<name>Muhni, Djuhertati Imam</name>
</author>
<id>http://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/84885</id>
<updated>2026-05-30T10:25:12Z</updated>
<published>2012-08-03T00:00:00Z</published>
<summary type="text">The Pursuit Of Happiness In American Mind And In Javanese Thought
Muhni, Djuhertati Imam
society has a concept of happiness and has a way to pursue it. This essay tries to bring out some of these concepts and its pursuits as seen in two different societies, namely American and Javanese. The discussion is more of a vision on the theme rather than a comparative study. The essay falls into two sections: the first describes some important facts about American pursuits of happiness and the second discusses the pursuit of happiness in one small part of the Javanese thoughts or Kejawen, namely Soerjomentaram’s philosophy of Ngelmu Beja.
</summary>
<dc:date>2012-08-03T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
<entry>
<title>Kontroversi Tentang Naskah Wangsakerta</title>
<link href="http://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/84884" rel="alternate"/>
<author>
<name>Lubis, Nina H</name>
</author>
<id>http://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/84884</id>
<updated>2026-05-30T10:24:58Z</updated>
<published>2012-08-03T00:00:00Z</published>
<summary type="text">Kontroversi Tentang Naskah Wangsakerta
Lubis, Nina H
Pada awal tahun 2002, di surat kabar terbesar di Jawa Barat, muncul perdebatan tentang Naskah Wangsakerta. Perdebatan ini muncul ketika naskah ini dijadikan rujukan untuk menentukan Hari Jadi Provinsi Jawa Barat oleh seorang pakar filologi, Edi S. Ekadjati (selanjutnya disingkat ESE). Penulis, sebagai seorang sejarawan, mempertanyakan keabsahan penggunaan naskah ini sebagai sumber sejarah mengingat kontroversi tentang naskah ini. Pada akhir tahun 1980-an, terjadi polemik di surat kabar, majalah, antara para sejarawan, arkeolog, dan filolog tentang naskah ini. Seminar dan diskusi juga telah mengangkat masalah naskah ini ke percaturan nasional.
</summary>
<dc:date>2012-08-03T00:00:00Z</dc:date>
</entry>
</feed>
