Show simple item record

dc.contributor.authorChristianto Rich, Wisma Nugraha
dc.date.accessioned2025-09-23T06:53:25Z
dc.date.available2025-09-23T06:53:25Z
dc.date.issued2012-09-12 00:00:00
dc.identifier.issn-
dc.identifier.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/1060
dc.identifier.urihttp://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/25214
dc.description.abstractPergelaran Wayang Jekdong di komunitas tradisi Jawatimuran hidup subur dalam kebiasaan penyelenggaraan hajatan. Hajatan dilaksanakan oleh individu, keluarga, kelompok keluarga, lembaga dusun, dan/atau desa. Wayang Jekdong adalah seni pertunjukan wayang kulit purwa yang hidup dan berkembang dari rakyat untuk rakyat desa dan kampung di Jombang, Majakerta, Sidoarjo, Gresik, Surabaya, Pasuruan, Lamongan, dan Malang. Kelangsungan praktik hajatan dan pergelaran Wayang Jekdong didukung oleh tradisi buwuhan (sumbang-menyumbang) dengan sistem nyalap-nyaur (memberi dan mengembalikan). Oleh karena itu, tata kelola modal sosial berperan strategis bagi dalang dalam mengembangkan kelangsungan pergelaran Wayang Jekdong. Demikian pula halnya dengan anggota masyarakat Jawatimuran yang masih melembagakan penyelenggaraan hajatan senantiasa mengelola modal sosialnya demi resiprositas dan solidaritas sosial.Kata Kunci: Wayang Jekdong, hajatan, nyalap-nyaur, modal sosial, resiprositas
dc.formatapplication/pdf
dc.language.isoeng
dc.publisherFaculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
dc.relation.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/1060/889
dc.rights['Copyright (c) 2012 Wisma Nugraha Christianto Rich', 'http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0']
dc.subjectnan
dc.titleNYALAP-NYAUR: MODEL TATAKELOLA PERGELARAN WAYANG JEKDONG DALAM HAJATAN TRADISI JAWATIMURAN
dc.typeArticle
dc.identifier.oaioai:jurnal.ugm.ac.id:article/1060
dc.journal.info['Humaniora; Vol 24, No 2 (2012); 175-186', '2302-9269', '0852-0801']


This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record