| dc.description.abstract | Sebuah konflik yang terjadi di pulau Rote (paling selatan dari gugusan kepulauan Indonesia) pada bulan Oktober 2000 dengan korban manusia sebanyak 3 orang dan korban harta benda lainnya. Issu yang mencuat bahwa konflik ini hanyalah sebuah pengulangan dari konflik-konflik sebelumnya yang pernah terjadi antara nusak (sebuah pengelompokan asli masyarakat pulau Rote dengan dasar kesamaan genealogis dan mempunyai klaim teritorial; sebuah sistem pemerintahan monarkhi dengan fungsi utama adalah pengadilan; sebuah kerajaan kecil), oleh karena itu pada kesempatan ini dikemukakan pertanyaan, Mengapa konflik antar nusak di pulau Rote cenderung berulang? Penelitian dilakukan dengan model studi kasus dengan berupaya mengobservasi konflik-konflik yang pernah terjadi di pulau Rote dengan pengambilan data dilakukan secara snow ball pada beberapa responden kunci selain upaya pengamatan. Dimanapun dan kapanpun ada sesuatu yang terdistribusi tidak seimbang dalam masyarakat karena tidak tersedia banyak, sehingga jika memakai pernyataan ini maka dimanapun pasti ada konflik. Namun apa yang bisa menjelaskan kenapa ada daerahdaerah yang relatif aman dan ada daerah-daerah yang relatif selalu mengalami kekacauan. Menurut teori konflik realist, konflik berulang karena tidak ada upaya redistribusi scarce resources, yang dipulau Rote diketemukan adalah air, ternak, ruang yang pada dasarnya adalah sumber-sumber ekonomi. Menyangkut sumberdaya ekonomi ini dijelaskan dengan memulainya dari hilangnya rasa aman. Awal konflik di pulau Rote zaman kemerdekaan kebanyakan dipicu oleh pencurian ternak, namu data berbicara bahwa penegakan hukum seperti penangkapan dan proses pengadilan tidak benar. Walaupun ada upaya berapologi dari aparat, tetapi masyarakat sudah terlanjur apriori dan apatis. Sehingga masyarakat berupaya sendiri untuk mengadakan rasa aman itu. Upaya ini logis ketika mereka berkelompok berdasarkan identitas nusak, karena identitas ini yang mampu mempersatukan. Juga logis ketika mereka membeli dan menyebunyikan senjata rakitan, karena hal ini adalah semacam garansi bagi keamanan mereka. Juga wajar ketika masyarakat berupaya sendiri mencari hewan mereka yang hilang, karena aparat sendiri sudah tidak bisa dipercaya. Sejarah konflik yang panjang dan reproduksi ceitera-ceritera konflik membuat tingkat kecurigaan antara nusak begitu tinggi. Ketika Kabupaten Rote Ndao terbentukpun, keadaan ini sangat baik untuk menjadi kendaraan posisi tawar para politisi. Issu yang disebarkan adalah adanya upaya elit-elit dari bagian timur dan bagian barat (dua-duanya adalah koalisi beberapa nusak), untuk saling menguasai. Namun faktanya adalah upaya beberapa tokoh politik agar kekuasaannya tetap langgeng. Penyelesaian yang pernah dilakukan oleh multystakeholder di pulau Rote hanyalah menghilangkan efek lethal konflik semata. Namun struktur distribusi yang timpang masih tetap saja ada, dan dapat muncul sewaktu-waktu. Konflik memperebutakan ruang tersembunyi dalam issu-issu konflik batas. Persoalan langkanya rasa aman tersembunyi dalam persoalan penegakan hukum atas pencurian hewan. Persoalan keterbatasan air tersembunyi dalam perkara-perkara perdata penghinaan dengan instrumen penganiyaan manusia atau melukai hewan yang sering berbuntut kekerasan dan kerusuhan. Semua kondisi struktural ini haruslah terlebih dahulu diatasi bila menginginkan pulau Rote yang lebih bersatu dan bebas dari prasangka negatif antara nusak. | |