| dc.description.abstract | Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana majalah Femina mengkonstruksikan feminitas dan maskulinitas terhadap laki-laki dan perempuan dalam berbagai rubrik featurenya. Beberapa alasan faktual yang digunakan sebagai pengantar (entry point) untuk mengasumsikan telah terjadinya pergeseran paradigma dalam memandang feminitas yang dilekatkan dengan perempuan dan kode maskulinitas yang dilekatkan dengan laki-laki, antara lain; runtuhnya Orde Baru sebagai simbol dari ideologi ibuisme, globalisasi yang mempengaruhi gaya hidup dan hubungan (relationship) perempuan dan laki-laki di Indonesia, perjuangan emansipasi, kesetaraan gender, isu-isu pemberdayaan dan advokasi terhadap persoalan perempuan yang semakin mendapat tempat dalam wacana masyarakat Indonesia. Analisis wacana kritis (critical discourse analysis) dengan pendekatan kognisi sosial (socio kognitive approach) Teun Van Dijk adalah pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitan menunjukkan bahwa majalah Femina terlihat secara tegas mengkonstruksikan feminitas dan maskulinitas dalam beragam feature utamanya tidak lagi terpaku pada bipolaritas dunia feminin (yang diasosiasikan dengan perempuan) dan maskulin (yang diasosiasikan dengan laki-laki), hal ini karena terlihat bahwa streotipe yang dianggap feminin juga melekat pada laki-laki, begitupula sebaliknya. Keadaan ini bisa diasumsikan bahwa peran laki-laki dan perempuan masa kini dalam feature majalah Femina telah dikonstruksikan menuju pada kesetaraan dengan kategori multi-peran bagi laki-laki dan perempuan, yang berciri antara lain: hubungan komunikasi antara laki-laki dan perempuan atau suami istri sudah simetris, sifat feminin dan sifat maskulin terdapat pada laki-laki dan perempuan, dan peran laki-laki dan perempuan tergantung situasi dan kondisi keluarga tersebut, pembagian kerja berdasarkan jenis kelamin tidak kentara dan tidak kaku, perempuan di sektor publik dan domestik dihargai, begitupula laki-laki. | |