Show simple item record

dc.contributor.authorFaruk, Faruk
dc.date.accessioned2026-06-02T01:15:27Z
dc.date.available2026-06-02T01:15:27Z
dc.date.issued2013-06-03 00:00:00
dc.identifier.issn2302-9269
dc.identifier.issn0852-0801
dc.identifier.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/1942
dc.identifier.uri10.22146/jh.1942
dc.identifier.urihttp://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/85283
dc.description.abstractTak dapat di ragukan lagi Chairil Anwar adalah seorang penyair besar. Setiap tahun, hingga sekarang, karya-karyanya masih terus diperingati, direproduksi, dibaca, dan direpresentasikan. Yang akan dibicarakan dalam makalah ini hanya salah satu puisi penyair tersebut, yaitu "Aku" yang terhimpun dalam kumpulan Deru Campur Debu (1965). Pilihan atas "Aku" ini dapat dianggap semaunya, tetapi dapat pula atas dasar tingkat popularitasnya yang cukup tinggi. Yang mendorong pemahaman kembali puisi-puisi lama seperti karya Chairil di atas bukan semata-mata kenyataan subjektifnya. Apabila dilihat dari caranya, kedua pembacaan mengenai karya-karya Chairil di atas tidak hanya terjadi karena kualitas internal karya-karya penyair itu sendiri, melainkan juga karena terjadinya perubahan cara pandang terhadap estetika dan bahkan kehidupan secara keseluruhan.
dc.formatapplication/pdf
dc.language.isoeng
dc.publisherFaculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
dc.relation.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/1942/1746
dc.rightsCopyright (c) 2013 Faruk Faruk; http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
dc.subjectAku, Chairil Anwar, estetika, puisi, semiotika riffaterre
dc.title"Aku" dalam Semiotika Riffaterre Semiotika Riffaterre dalam "Aku"
dc.typeArticle
dc.identifier.oaioai:jurnal.ugm.ac.id:article/1942
dc.journal.infoHumaniora; No 3 (1996)


This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record