Show simple item record

dc.contributor.authorWijana, I Dewa Putu
dc.date.accessioned2026-06-02T01:15:39Z
dc.date.available2026-06-02T01:15:39Z
dc.date.issued2013-06-03 00:00:00
dc.identifier.issn2302-9269
dc.identifier.issn0852-0801
dc.identifier.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/1944
dc.identifier.uri10.22146/jh.1944
dc.identifier.urihttp://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/85285
dc.description.abstractDi dalam berbagai bahasa tentu ada kalimat-kalimat yang menyimpangdi lihat dari keselarasan kategori dan makna elemen pembentuknya. Kalimat-kalimat seperti ini dalam istilah linguistik dikenal dengan sebutan kalimat anomali (anomalous sentence) (Kridalaksana, 1993, 14; Fromkin & Rodman. 1983, 177). Hal yang menarik dipermasalahkan di sini adalah bahwa kalimat anomali (nonsense) tidak pernah di utarakan atau diucapkan di dalam pemakaian bahasa yang sebenarnya. Kalimat-kalimat itu diciptakan dalam konteks yang abstrak, tidak jelas siapa pembicaranya, dengan s1apa kalimat itu diutarakan, kapan kalimat itu diutarakan, dan sebagainya. Abstraknya konsepsi data yang melatarbelakangi teori Chomsky.
dc.formatapplication/pdf
dc.language.isoeng
dc.publisherFaculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
dc.relation.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/1944/2885
dc.rightsCopyright (c) 2013 I Dewa Putu Wijana; http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
dc.subjectbahasa, kalimat anomali, linguistik, nonsense, pragmatik
dc.titleKalimat Anomali dan Kedudukannya dari Sudut Pandang Pragmatik
dc.typeArticle
dc.identifier.oaioai:jurnal.ugm.ac.id:article/1944
dc.journal.infoHumaniora; No 3 (1996)


This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record