Show simple item record

dc.contributor.authorDaeng, Hans
dc.date.accessioned2026-06-02T01:16:29Z
dc.date.available2026-06-02T01:16:29Z
dc.date.issued2013-06-05 00:00:00
dc.identifier.issn2302-9269
dc.identifier.issn0852-0801
dc.identifier.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/1970
dc.identifier.uri10.22146/jh.1970
dc.identifier.urihttp://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/85294
dc.description.abstractManggarai adalah salah satu dari lima kabupaten di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Dalam konsep tentang dinamika masyarakat dan kebudayaan ada pandapat yang mengatakan bahwa proses persebaran kebudayaan-kebudayaan secara geografis terjadi oleh perpindahan bangsa-bangsa (migrasi) di muka bumi. Jadi persebaran unsur-unsur kebudayaan (difusi) berjalan berbarengan dengan migrasi. Bila judul di atas dikaitkan dengan konsep dinamika masyarakat dan kebudayaan, maka dapat diajukan beberapa pertanyaan seperti: mengapa terjadi pertentangan antara Bima dan Goa, bagaimanakah cara-cara yang digunakan untuk merealisasi hasrat dan cita-cita masing-masing, apa akibatnya untuk Manggarai sendiri.
dc.formatapplication/pdf
dc.language.isoeng
dc.publisherFaculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
dc.relation.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/1970/1775
dc.rightsCopyright (c) 2013 Hans Daeng; http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
dc.subjectaspek kebahasaan, fonologi, morfologi, pengajaran, semantik, sintaksis, pragmatik, teks humor
dc.titleManggarai Daerah Sengketa antara Bima dan Goa
dc.typeArticle
dc.identifier.oaioai:jurnal.ugm.ac.id:article/1970
dc.journal.infoHumaniora; No 2 (1995)


This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record