Show simple item record

dc.contributor.authorIstanti, Kun Zachrun
dc.date.accessioned2026-06-02T01:16:35Z
dc.date.available2026-06-02T01:16:35Z
dc.date.issued2013-06-05 00:00:00
dc.identifier.issn2302-9269
dc.identifier.issn0852-0801
dc.identifier.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/1971
dc.identifier.uri10.22146/jh.1971
dc.identifier.urihttp://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/85295
dc.description.abstractManurut teori empirisme, pengetahuan diperoleh dangan perantaraan pancaindera. Pancaindera memperoleh kesan-kesan dari segala sesuatu yang ada di alam nyata dan kesan-kesan itu terkumpul dalam diri manusia. Pengetahuan itu sendiri terdiri dari susunan dari kesan-kesan yang berbagai rupa ini (Harun Nasution, 1975: 11-12). Salah satu hakikat sastra adalah menggambarkan manusia sebagaimana adanya. Karya sastra yang baik akan mengajak pembaca melihat karya-karya tersebut seperti cermin diri nya sendiri. Dengan jalan menimbulkan pathos, yaitu simpati terhadap dan merasa terlibat dalam penstiwa mental yang terjadi dalam karya tersebut, dapat terjadi secara intens apabila pembaca dapat mengadakan hubungan langsung dengan karya itu. Sastra mempunyai fasilitas yang lebih luas untuk menggerakkan pathos pembaca, antara lain berupa karakter-karakter atau tokoh-tokoh yang berbeda pandangan (Budi Darma, 1984: 87).
dc.formatapplication/pdf
dc.language.isoeng
dc.publisherFaculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
dc.relation.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/1971/1776
dc.rightsCopyright (c) 2013 Kun Zachrun Istanti; http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
dc.subjectempirisme, karakter, pathos, sastra, tokoh
dc.titleEmpirisme dalam Penokohan
dc.typeArticle
dc.identifier.oaioai:jurnal.ugm.ac.id:article/1971
dc.journal.infoHumaniora; No 2 (1995)


This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record