Show simple item record

dc.contributor.authorPoerwanto, Hari
dc.date.accessioned2026-06-02T01:20:43Z
dc.date.available2026-06-02T01:20:43Z
dc.date.issued2013-06-19 00:00:00
dc.identifier.issn2302-9269
dc.identifier.issn0852-0801
dc.identifier.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/2046
dc.identifier.uri10.22146/jh.2046
dc.identifier.urihttp://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/85336
dc.description.abstractJauh sebelum masa kolonial, tidak ada satu istilah kata pun yang mencakup wilayah kepulauan negara Republik Indonesia. Pada awal kedatangan Belanda untuk berdagang, kawasan ini disebut Indie atau India, yang diterjemahkan dan bahasa Inggns Indies. Serupa dengan kata tersebut, muncul pula istilah lain ialah Achter-India (Hindia-Belakang) yang berbeda dengan Voor-Indie, (Hindia Muka) atau India sekarang. Akan tetapi, sampai dengan abad XVII, sebutan Achter-Indie mencakup wilayah lebih luas dibandingkan dengan kawasan Asia Tenggara dewasa ini, yaitu ditambah Tibet di barat laut dan wilayah Cina Selatan di bagian timur-laut; termasuk seruruh wilayah di Laut Cina dan Teluk Bengali. Sampai dengan akhir abad XIX, istilah yang lazim dipakat adalah Indische Archipel atau Kepulauan Indie. Secara resmi, baru pada 1910 seluruh wilayah daerah jajahan Belanda di Indonesia disebut dengan Nederlandsch-lndie. Penduduk pribumi yang berada di sana disebut dengan Inlanders atau bumiputera.Bagi kaum nasionalis, istilah Inlanders dinilai mengandung konotasi menghina karena seolah-olah orang Jawa atau Sunda merupakan natives atau aborigines dan Negeri Belanda. Sebelum muncul kata Indonesia yang disetujui oleh kaum nasionalis, Eduard Douwes Dekker pernah mengusulkan 'Insulinde', yaitu sebagai alternatif pengganti kata Inlanders, dan sebulan tersebut juga kurang dapat diterima. Akhirnya, pada 1920-an ditemukan istilah yang dapat diterima, ialah 'Indonesia'. Seiring dengan itu, muncul juga istilah 'Nusantara".
dc.formatapplication/pdf
dc.language.isoeng
dc.publisherFaculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
dc.relation.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/2046/1847
dc.rightsCopyright (c) 2013 Hari Poerwanto; http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
dc.subjectIndonesia, Belanda, ekspresi kesukubangsaan, sejarah, suku bangsa
dc.titleSuku Bangsa dan Ekspres Kesukubangsaan
dc.typeArticle
dc.identifier.oaioai:jurnal.ugm.ac.id:article/2046
dc.journal.infoHumaniora; No 9 (1998); 112-122


This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record