Show simple item record

dc.contributor.authorAbdullah, Imran T.
dc.date.accessioned2026-06-02T01:25:20Z
dc.date.available2026-06-02T01:25:20Z
dc.date.issued2013-06-24 00:00:00
dc.identifier.issn2302-9269
dc.identifier.issn0852-0801
dc.identifier.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/2081
dc.identifier.uri10.22146/jh.2081
dc.identifier.urihttp://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/85363
dc.description.abstractCerita prose daJam tradisi sastra Aceh disebut haba (Arab: khabar). Haba dipandang sebagai jenis cerita yang tidak serius sebab biasanya disampaikan dalam suasana santai, sebagai cerita perintang waktu. Karena sifat penyampaiannya yang demikian, maka haba umumnya pendek-pendek dan hampir selalu merupakan cerita yang penuh dengan unsur-unsur kejenakaan. Haba selalu disampaikan secara lisan, dan diwarisi seeara turun temurun dari mulut ke mulut. Karya-karya haba dapat dikatakan tidak pernah diturunkan ke dalam bentuk tertulis. Naskah-naskah haba yang kini tersimpan di Universiteir Bibliotheek Leiden (UBL) bukanlah naskah budaya (naskah yang terpakai di dalam masyarakat), melainkan ditulis atas permintaan kolektor-kolektor Belanda pada masa itu. Naskah ditulis dalam huruf Jawoe (Melayu: Jaw ) dan Latin dengan memakai kertas folio bergaris yang bersih dari bekas-bekas keringat.
dc.formatapplication/pdf
dc.language.isoeng
dc.publisherFaculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
dc.relation.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/2081/1881
dc.rightsCopyright (c) 2013 Imran T. Abdullah; http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
dc.subjectAceh, cerita rakyat, Haba, intertekstual, sastra
dc.titleASPEK INTERTEKSTUAL DALAM CERITA RAKYAT DATA: CERITA SI MISKIN DENGAN RAJA BAYAN"
dc.typeArticle
dc.identifier.oaioai:jurnal.ugm.ac.id:article/2081
dc.journal.infoHumaniora; No 3 (1991)


This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record