Show simple item record

dc.contributor.authorAbdullah, Imran T.
dc.date.accessioned2026-06-02T01:26:45Z
dc.date.available2026-06-02T01:26:45Z
dc.date.issued2013-06-25 00:00:00
dc.identifier.issn2302-9269
dc.identifier.issn0852-0801
dc.identifier.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/2094
dc.identifier.uri10.22146/jh.2094
dc.identifier.urihttp://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/85375
dc.description.abstractSebenarnya istilah resepsi sastra atau disebut juga estetika resepsi sudah tidak asing lagi bagi telinga pengamat sastra Indonesia. Apalagi sejak tahun 80-an relah terbit dua buah buku penting yang membicarakan masalah ini terutama dari Prof. A. Teeuw (1984) dan Prof. Umar Junus (1985). Adanya tanggapan pembaca terhadap karya sastra sesungguhnya juga sudah berlangsung lama dalam kehidupan sastra baik lisan maupun tertulis. Pengamat sastra pun menyadari akan fungsi komunikasi sastra. Mukarovsky, misalnya,. sejak tahun 80-an telah membicarakan hal ini dalam sistem semiotiknya. Dikatakannya, karya sastra sebagai sistem tanda dibedakan dalam dua aspek, ialah penanda (signifiant) dan petanda (signifie ). Penanda merupakan artefak, struktur mati, petandalah yang menghubungkan artefak itu ke dalam kesadaran penyambut menjadi objek estetik (Fokkema, 1977:81). Dengan kata lain, karya sastra tidak dapat dipahami dan diteliti lepas dan konteks sosial.
dc.formatapplication/pdf
dc.language.isoeng
dc.publisherFaculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
dc.relation.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/2094/1893
dc.rightsCopyright (c) 2013 Imran T. Abdullah; http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
dc.subjectestetika resepsi, pengamat sastra, resepsi sastra, sastra Indonesia, semiotik
dc.titleRESEPSI SASTRA: TEORI DAN PENERAPANNYA
dc.typeArticle
dc.identifier.oaioai:jurnal.ugm.ac.id:article/2094
dc.journal.infoHumaniora; No 2 (1991)


This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record