Asimilasi Cina dan Melayu di bangka
Abstract
Interaksi sosial orang Cina dan Melayu di Bangka diasumsikan cenderung berasimilasi. Asimilasi orang Cina dan Melayu ini tampak unik, yaitu natural dan relatif sempurna yang terjadi dalam beberapa tingkatan dengan derajat berbeda. Penelitian ini mengajukan dua permasalahan. Pertama, pada tingkatan apa sajakah terjadinya asimilasi orang Cina dan Melayu itu? Kedua, faktor apa yang mempengaruhi asimilasi orang Cina dan Melayu itu? Penelitian ini menggunakan pendekatan interaksionisme simbolik. Pendekatan ini berguna untuk memperoleh makna laten dari interaksi sosial individu atau etnis minoritas dengan individu atau kelompok etnis mayoritas. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Fokus penelitiannya ialah keluarga Cina yang berasimilasi dengan orang pribumi Melayu di Bangka. Informan penelitian sebanyak enam orang, yang dipilih berdasarkan: pendidikan, pengetahuan, ketokohan, dan pengalaman asimilasi, asal kota-desa, atau lingkungan, Selain itu, key informan diambil dari latar belakang beragam, yakni dari kalangan akademisi, pemuda, politisi, agamawan, birokrasi dan dari tokoh masyarakat. Semua informasi dari mereka dijadikan sumber data primer, yang dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi-partisipasi, in-depth interview, dan literature review. Data primer yang bersifat kualitatif yang dibantu dengan data kuantitatif (angka-angka), dianalisis melalui metode deskriptif-kualitatif. Teori asimilasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori asimilasi Milton M. Gordon yang dielaborasi. Penelitian ini menunjukkan bahwa asimilasi orang Cina dan Melayu terjadi dalam beberapa tingkatan asimilasi, yaitu kultural, struktural, perkawinan, identifikasi dan asimilasi prilaku tanpa prasangka dan diskriminasi. Setiap tingkatan ini memiliki derajat berbeda. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa kondisi sosial dan ekonomi masyarakat Bangka dapat mempengaruhi terjadinya proses asimilasi ini. Faktor pendukungnya adalah ekonomi yang relatif berimbang secara etnis; struktur etnis Melayu sebagai etnis mayoritas dengan kepercayaan etnis yang tinggi dan terbuka; pemukiman penduduk yang menyebar secara etnis; sistem pendidikan yang demokratis; agama Islam sebagai agama mayoritas; dan sistem politik yang demokratis. Selain itu, penelitian ini menemukan tiga faktor kendala asimilasi, yaitu perubahan lingkungan ekonomi yang cenderung kurang berimbang secara etnis; perubahan pendidikan anak-anak kedua etnis; dan perubahan kehidupan beragama. Dengan temuan tersebut, penelitian ini menunjukkan bahwa asimilasi orang Cina dan Melayu di Bangka merupakan suatu asimilasi natural dan relatif sempurna. Penelitian ini oleh karenanya mendukung dan sekaligus merevisi teori asimilasi Gordon tentang multi-tingkatan asimilasi. Dari temuan di atas, penelitian ini secara teoritis merupakan elaborasi terhadap teori asimilasi Gordon. Elaborasi dilakukan karena teori ini dalam implementasinya mengalami kendala, yaitu kesulitan mencapai semua tingkatan asimilasi, mengingat setiap masyarakat memiliki struktur sosial dan ekonomi yang berbeda. Penelitian ini, secara praktis menemukan bahwa masalah etnisitas merupakan suatu hal yang kompleks. Kebijakan pemerintah hendaknya dapat membela masyarakat secara keseluruhan, sehingga tidak ada suatu etnis yang dirugikan. Dari sini, penelitian ini menawarkan pentingnya masalah pluralisme budaya dalam rangka pengambilan kebijakan etnisitas.
Date
2006Author
ABDULLAH
Metadata
Show full item recordURI
https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/31598http://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/42057
