Dilema Transformasi Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses transformasi yang dilakukan oleh Gerakan Jemaah Tarbiyah, dari gerakan sosial ke politik dan dilemanya. Dilema yang dialami oleh gerakan Islam berpandangan bahwa ajaran Islambersifat komprehensf (syumuliah). Dalam hal ini, politik tidak dapat dipisahkan dari Islam (addineul Islam). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-fenomenologis.Data penelitian dikumpulkan melalui kajian literatur (literature study) dan indept interview. Penelitian ini menggunakan teori gerakan Islam, pendidikan politik (tarbiyah siyasah), dan jaringan sosial. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dilihat dari sejarahnya merupakan partai politik yang dikembangkan dari Gerakan Islam yaitu Gerakan Jemaah Tarbiyah. Gerakan ini muncul di Indonesia sejak tahun 1980 an dan memerlukan 20 tahun (awal tahun 1980 sampai dengan 1998) untuk memperluas jaringannya di masjid kampus di Indonesia dengan membentuk Forum Silaturahim Lembaga Dakwah Kampus (FSLDK). Pada tanggal 20 Mei 1998, gerakan ini memperluas jaringan dakwahnya di masjid Al Azhar dengan memasuki wilayah politik (mihwar siyasi) dan mendeklarasikan berdirinya Partai Keadilan (PK).Partai ini berubah nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada tanggal 20 April 2002. Transformasi dari Gerakan Jemaah Tarbiyah menjadi partai politik dipengaruhi oleh dua faktor, factor internal (Corak pemahaman Islam-ideologinya tidak memisahkan antara Islam dan Politik ; sosial dan jaringan dakwah, dan kader militant) dan faktor eksternal (political opportunity).Transformasi yang dihadapi oleh gerakan ini baik internal maupun eksternal adalah transformasi terbatas dan memicu dilemma bagi Partai Keadilan Sejahtera. Ada tiga level dilemma yaitu dilema doktrin, strategi dan outcomes (muwashofat). Ada kecenderungan discontinuity process antara pemahaman dalam ranah keyakinan (ideologi) yang komplek dan pemahaman dalam ranah politik yang pragmatis. Transformasi yang tergantung pada kegiatan tarbiyah dan menggunakan political opportunity yang sudah ada tidak mampu mendapatkan dukungan yang significan dari Gerakan Jemaah Tarbiyah. Gerakan ini tidak mampu menyelesaikan masalah klasik yang dihadapi oleh partai Islam di Indonesia, sebagai iktiar untuk menciptakan basis sosial yang baru yang mampu melegitimasi keberadaan Jemaah Tarbiyah dalam wilayah politik Negara (mihwar dauli). Akar dari dilema yang dihadapi oleh Jemaah Tarbiyah (Partai Keadilan Sejahtera) berawal ketika gerakan ini menerapkan strategi intifa dari awal berdirinya sampai ketika PKS memasuki era politik. Strategi ini digunakan untuk merekrut tokoh penting dalam partai. Hal ini memicu terjadinya faksi dan friksi dalam internal partai (kelompok idealis dan pragmatis) karena tokoh-tokoh tersebut dipilih dari berbagai elemen gerakan islam yang berbeda-beda yang memiliki pemikiran islam tertentu. Akar dari dilema terjadi karean beberapa tokoh penting tidak melalui proses pendidikan politik yang diharapkan (tarbiyah hisbiyah) berdasarkan visi dan platform partai, sehingga keasliannya dipertanyakan.
Date
2015Author
NASIWAN, S.PD.
Metadata
Show full item recordURI
https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/83601http://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/42088
