Konflik dan Perdamaian Etnis di Indonesia: Menjelaskan Variasi
Abstract
Mengapa kekerasan terjadi di kota dan kabupaten tertentu di Indonesia tetapi tidak di kota dan kabupaten lain? Lebih spesifik lagi, mengapa kekerasan anti-Tionghoa terjadi di Surakarta tapi tidak di Yogyakarta? Mengapa kekerasan komunal terjadi di Ambon tapi tidak di Manado? Apakah pemilahan etnis menjelaskan variasi insiden kekerasan? Salah satu fenomena penting ketika Indonesia mengalami transisi dari Orde Baru ke Reformasi adalah, insiden kekerasan etnis secara geografis terkonsentrasi di 15 kota dan kabupaten. Ada lebih banyak kota dan kabupaten yang tidak mengalami kekerasan etnis, walaupun ada ketegangan. Secara temporal kekerasan itu dapat dinisbatkan kepada beberapa faktor mencolok di tingkat nasional, seperti krisis ekonomi dan melemahnya kapasitas negara khususnya angkatan bersenjata dalam memadamkan kekerasan tersebut. Tetapi, secara spasial penjelasan ini tidak memadai: Krisis dan aparat keamanan yang lemah terjadi secara nasional tetapi dalam tingkat subnasional ada variasi yang dramatis dalam ruang kekerasan etnis. Disertasi ini meneliti kasus-kasus kota yang mengalami insiden kekerasan (Surakarta dan Ambon) dan yang tidak mengalami kekerasan walaupun ada ketegangan, yang disebut dengan nirinsiden (Yogyakarta dan Manado). Kasus-kasus ini juga mewakili pemilahan terpenting di Indonesia, yaitu Pribumi-Tionghoa di Surakarta dan Yogyakarta, serta Islam Kristen di Ambon dan Manado. Dengan menggunakan data dari survei dan media lokal, disertasi ini melakukan process tracing dalam melakukan perbandingan dan kontras subnasional pada level kota, dan menyusun narasi setiap kasus dengan merujuk kepada mekanisme yang dianggap menyebabkan hasil yang berbeda di dua pasang kota. Disertasi ini menunjukkan bahwa peran dan strategi aktor, baik negara mapun nonnegara, lebih besar dari ciri dan pemilahan kelompok. Surakarta mengalami kekerasan sebagai hasil strategi alih bingkai yang dilakukan aparat keamanan untuk mengalihkan perhatian publik dari kegagalan mereka mengendalikan demonstrasi mahasiswa anti-Soeharto pada Mei 1998. Ciri kelompok dan pemilahan Pribumi- Tionghoa tidak menyebabkan kekerasan. Kekerasan terjadi di Ambon pada Januari 1999 karena tidak ada penangkalan dari negara, ketika kekerasan rutin, dan yang lebih penting, kekerasan luar biasa dan tanpa preseden dalam bentuk pembakaran dan rumor tentang pembakaran tempat ibadat, terjadi. Ini menyebabkan kehidupan sehari-hari di kota mengalami breakdown. Ciri kelompok dan pemilahan Islam-Kristen tidak menyebabkan kekerasan itu sendiri.
Date
2015Author
SAMSU RIZAL PANGGABEAN
Metadata
Show full item recordURI
https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/92339http://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/42107
