KONTESTASI ANTAR ELIT DESA DALAM MEMPEREBUTKAN KAPITAL (STUDI DI DESA DI KALITORONG, KAB. PEMALANG, JAWA TENGAH)
Abstract
Kepala desa dan ulama sebagai the rural elites di Kalitorong, seharusnya bersinergi untuk membangun desa, tetapi realitasnya mereka justru sering terlibat kontestasi. Mereka sering berbeda pendapat, berebut kuasa, mencari kesalahan, dan saling menjatuhkan dan sebagainya. Kontestasi ini antar elit ini telah lama terjadi dan masih berlangsung sampai sekarang. Pertanyaannya adalah mengapa para ulama dan kepala desa di Kalitorong itu berkontestasi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis mengajukan sub-pertanyaan sebagai berikut : Sejauhmana keterbatasan sumber daya alam, dan rendahnya kualitas sumber daya manusia menjadi potensi kontestasi antar elit di desa Kalitorong? Sejauhmana elit agama dan elit pemerintah desa itu menguasai arena sosial (field), memiliki habitus dan kapital? Bagaimana para elit itu menggunakan arena sosial, habitus dan kapital untuk berkontestasi di era Orde Baru dan era pasca reformasi? Apa kepentingan di balik kontestasi antar elit di desa Kalitorong? Untuk mengkaji fenomena kontestasi antar elit di desa Kalitorong, peneliti meminjam teori konsep sosiologi yang ditawarkan Bourdieu yaitu arena (field), habitus, dan kapital. Ketiga komponen itu membentuk rumus yang dikenal dengan formulasi tindakan generatif yaitu (Habitus x Kapital) + Ranah = Praksis. Dari rumus tersebut tampak bahwa tindakan sosial itu merupakan hasil dialektis dari arena, habitus dan kapital yang sering digunakan dalam game. Peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan ethnografi. Untuk mengumpulkan data, peneliti menggunakan teknik wawancara mendalam, observasi dan studi dokumen. Data kemudian dideskripsikan, didialogkan dengan teori, dan interpretasikan. Proses tersebut berjalan secara siklus interaktif. Kajian ini menemukan bahwa kontestasi antara kepala desa dengan ulama ini terjadi karena perebutan arena sosial - kepala desa ingin memperluas arena sosialnya (field) yang selama ini menjadi arena sosial elit agama. Sehingga symbolic power dari elit agama, minimal, menjadi berkurang, atau melemah. Elit agama sebagai aktor kontestasi kemudian menggunakan habitus agar menjadi pemenang dalam perebutan tersebut. Hal itu tidak dilakukan sendiri, tetapi mengerahkan kapital yang dimiliki, baik kapital ekonomi, kultural maupun sosial. Maka, elit agama mampu memenangkan kontestasi atas kepala desa. Elit agama tetap memiliki symbolic power, sehingga ditaati, dihormati, diakui sebagai kyai di masyarakat. Kajian ini menemukan bahwa the real actor dari tindakan kontestasi ini para elit, bukan antar kelas. Pihak yang mampu berkontestasi dengan kepala desa itu harus orang yang memiliki banyak kapital, dan itu hanya dimiliki oleh para elit. Maka, tindakan sosial di Kalitorog itu merupakan contestation within the rural elites (kontestasi antar elit). Para elit dengan cerdas menggunakan habitus sebagai modus operandi dan opus operatum. Elit berebut dan ingin menguasa arena sosial (field) yang tersedia, agar memperoleh kapital. Di samping itu, kajian ini juga menemukan bahwa pada masyarakat yang memiliki basis keagamaan yang kuat seperti Kalitorong, kapital agama ini tersedia sangat melimpah, dan sering dijadikan alat kontestasi. Pihak yang berkontestasi sering menggunakan ayat al- Quran atau fatwa untuk dijadikan legitimasi tindakan sosial. Hal ini dilakukan pada waktu pilkades, pemilu, kerja bakti dan tindakan sosial lainnya. Kapital yang berbasis pada agama ini sulit dikategorikan dalam forms of capital sebagaimana yang ditawarkan oleh Bourdieu. Meskipun demikian, kapital ini akan fungsional kalau bekerja dengan kapital lainnya. Kontestasi merupakan bagian dari dinamika kehidupan sosial yang akan selalu muncul di pedesaan, dengan tingkat eskalasi yang berbeda. Kontestasi bukanlah tindakan xv yang dilarang, asal dilakukan secara fair (adil). Fairness ini harus berbasis pada etika, moral, dan agama, bukan kepentingan sehingga diharapkan kehidupan sosial itu bermartabat
Date
2016Author
AGUS NURHADI
Metadata
Show full item recordURI
https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/93353http://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/42110
