Instrumentasi Modalitas Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam Pisowanan Ageng 2008
Abstract
INTISARI Eksistensi dan keistimewaan kraton Yogyakarta kembali teruji di tengah situasi gejolak politik lokal-nasional. Terlihat kepiawaian Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam mengemas tradisi kultural keraton untuk mengangkat isu lokal DIY ke tingkat nasional. Penyelenggaraan Pisowanan Ageng I pada bulan Mei 1998 yang merupakan puncak akumulasi dari proses gerakan reformasi di Indonesia. Pisowanan Ageng II digelar pada September 1998 sepeninggal Paku Alam VIII selaku Pejabat Gubernur DIY yang berkaitan dengan suksesi kepemimpinan DIY. Sembilan tahun kemudian diselenggarakan Pisowanan Ageng III pada tanggal 18 April 2007 di saat-saat menjelang pemilihan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Kurang lebih 6 bulan setelahnya, Sultan menyelenggarakan kembali Pisowanan Ageng IV pada tanggal 28 Oktober 2008 yang dalam kesempatan ini Sultan Hamengku Buwono X menyatakan statement kesiapan untuk dicalonkan sebagai Presiden pada pemilu 2009. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode field research (penelitian lapangan). Field research secara langsung bersentuhan dengan fenomena sosial yang diteliti. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam dan dokumentasi. Pemilihan informan dalam penelitian menggunakan teknik purposive sampling. Analisa data menggunakan metode emik dan etik serta literature yang berhubungan dengan masalah penelitian. Sesuai teori modalitas Bourdieu, bahwa untuk menganalisa proses terjadinya Pisowanan Ageng 2008 sebagai fenomena sosial yang sarat akan muatan politik, di mana Sri Sultan Hamengku Buwono X adalah sebagai tokoh sentral dalam pagelaran tersebut dapat melihat modalitas yang melekat padanya. Modalitas tersebut meliputi modal simbolik berupa kehormatan dan reputasi serta gengsi yang merupakan representasi dari kekuasaan Sultan, modal sosial berupa sumber daya faktual dan non-faktual yang terpusat pada sosok pribadi Sultan sebab memiliki jaringan atau hubungan lintas sektoral baik secara kultural maupun struktural, modal budaya di mana menunjukkan selera budaya dan konsumsi pengetahuan Sultan yang terimplementasi pada tutur kata dan atur prilaku sebagai wujud dari persepsi budaya kraton, dan terakhir modal ekonomi berupa properti, uang dan penguasaan aset oleh Sultan yang pasti akan berpengaruh pada relasi dalam sistem pemerintahan DIY dan masyarakat. Mekanisme intrumentasi modal-modal sultan tersebut dapat dilihat dari paparan sebagai berikut: Ada pemanfaatan segala atribut dan simbol yang melekat pada sultan. Penggunakan sarana budaya keraton/ sultan. Pemanfaatan jaringan komunikasi sultan. Serta penggunakan modal sultan sebagai penguasa keraton dan pemimpin Provinsi DIY dalam penggalangan dana sebagai biaya penyelenggaraan pagelaran Pisowanan Ageng 2008. Akan tetapi instrumentasi modalitas Sultan belum dapat dikatakan berhasil karena minimnya dukungan internal Keraton Yogyakarta terhadap pemikiran dan agenda Sultan. Terlepas dari pro dan kontra tersebut, hasil dari penelitian ini menggambarkan bagaimana kepiawaian Sri Sultan Hamengku Buwono X dalam menjalankan peran ganda, yaitu sebagai pemimpin politik di Wilayah DIY yang mampu merespon isu-isu lokal dan nasional. Namun sultan juga berperan sebagai Raja Jawa yang mampu setia dan senantiasa menjaga adat-istiadat budaya Keraton Yogyakarta. Kata kunci: Pisowanan Ageng, Modalitas (Simbolik, Sosial, Budaya, Ekonomi) Sri Sultan Hamengku Buwono X, Instrumentasi Modalitas Sultan.
Date
2014Author
SETYANINGSIH, Eko Eni
Metadata
Show full item recordURI
https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/118393http://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/47747
