Show simple item record

dc.contributor.authorEffendhie, Machmoed
dc.date.accessioned2026-05-30T10:13:25Z
dc.date.available2026-05-30T10:13:25Z
dc.date.issued2012-08-03 00:00:00
dc.identifier.issn2302-9269
dc.identifier.issn0852-0801
dc.identifier.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/667
dc.identifier.uri10.22146/jh.667
dc.identifier.urihttp://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/84823
dc.description.abstractPada November 1813 dua buah persil nomor 3 dan 4 seluas 526 .100 acree atau kurang Iebih 2129,108 km 2 yang terletak di afdeeling Krawang, Jawa Barat telah dibeli oleh J. Shrapnell dan Ph . Skelton. Persil 3 dan 4 itu kemudian terkenal dengan nama tanah partikelir Pamanoekanen Tjiasemlanden atau sering disingkat P en T .' Wilayah ini sekarang menjadi Kabupaten Subang dengan batas-batas wilayah tetap sama seperti batas wilayah tanah partikelir P en T tempo doeloe, yakni di sebelah utara Laut Jawa, sebelah barat Sungai Cimalaya, sebelah selatan Gunung Tangkuban perahu, dan sebelah timur Sungai Sawu. Pada tahun 1858, penguasa baru tanah P en T, W. Hofland bersaudara, telah mengembangkan tanah-tanah yang semula tidak produktif menjadi tanah produktif untuk areal perkebunan baru .
dc.formatapplication/pdf
dc.language.isoeng
dc.publisherFaculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
dc.relation.urihttps://jurnal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora/article/view/667/513
dc.rightsCopyright (c) 2012 Machmoed Effendhie; http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0
dc.subject-
dc.titlePETANI DAN BURUH TANI DI TANAH PARTIKELIR P en T, 1900-1930-an
dc.typeArticle
dc.identifier.oaioai:jurnal.ugm.ac.id:article/667
dc.journal.infoHumaniora; Vol 11, No 3 (1999); 22-28


This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record