ADOPSI TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI PADA ORGANISASI TRADISIONAL BANJAR DI BALI
Abstract
Saat ini, perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dikatakan sangat pesat, karena kemampuannya untuk melakukan komunikasi jarak jauh secara efektif dan efisien. Kecepatan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ini mampu mempengaruhi mekanisme komunikasi antar angggota organisasi dan interaksi antara anggota organisasi dengan lingkungannya. Studi-studi mengenai kontribusi TIK pada organisasi masih jaramg dilakukan pada bentuk organisasi yang bersifat tradisional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjelaskan alasan banjar mengadopsi atau menolak TIK pada komunikasi organisasinya, menggambarkan berbagai variasi tingkat adopsi TIK, dan menjelaskan faktorfaktor yang mempengaruhinya. Difusi teori inovasi dan kesiapan penerimaan teknologi digunakan untuk membantu menjawab permasalahan. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, yang dilakukan pada tujuh banjar yang terletak di empat kabupaten, yang Badung, Denpasar, Gianyar, dan Klungkung. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam dan data dianalisis dengan metode studi kasus. Teknik pengambilan sampel purposif digunakan untuk menentukan sampel dari populasi yang diteliti. Penelitian ini menemukan bahwa masuknya TIK akan mengubah metode komunikasi di banjar. Tidak semua banjar memutuskan untuk mengadopsi TIK pada komunikasi organisasi mereka. Namun, pada banjar yang memutuskan untuk mengadopsi TIK, TIK tidak secara murni diterapkan pada komunikasinya. Alasan tidak diterapkannya TIK adalah karena banjar masih memiliki ketakutan dan ketidaknyamanan jika TIK diterapkan murni pada komunikasi mereka. Ada dua faktor yang dapat mempengaruhi banjar untuk mengadopsi atau menolak TIK. Pengaruh dari faktor-faktor ini menghasilkan penggunaan berbagai teknologi informasi dan komunikasi di banjar dipelajari. Faktor-faktor ini dapat mendorong atau menghambat adopsi teknologi informasi dan komunikasi di banjar. Faktor kultural mencakup struktur sosial, norma sistem, bahasa, agama, tradisi, dan nilai-nilai tradisional. Faktor non-kultural meliputi penduduk, infrastruktur, dan adaptasi lingkungan sekitarnya. Penggunaan TIK yang tidak terkendali dapat membawa dampak buruk bagi banjar. dampak negatif yang ditimbulkan adalah tergesernya fungsi kasinoman oleh Tik yang berimbas pada sulitnya kinerja mereka untuk dipantau. Hal negatif lain yang mungkin terjadi adalah penyesuaian norma-norma sosial yang telah dianut dan semakin berkurangnya rasa kekeluargaan antar krama dalam banjar. Prajuru adat sebagai ujung tombak di banjar dituntut untuk membuat aturan dan prosedur yang jelas mengenai penggunaan TIK pada komunikasi banjar. Selain itu, prajuru juga dituntut untuk menunjukkan bahwa metode tatap muka masih penting untuk dilakukan.
Date
2013Author
Ade Devia Pradipta, S.E
Metadata
Show full item recordURI
https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/59600http://digilib.fisipol.ugm.ac.id/repo/handle/15717717/89005
